29 August 20190 Komentar
Ditulis oleh Admin Kec. Plumpang

SEJARAH SINGKAT KECAMATAN PLUMPANG

Kecamatan Plumpang sebuah kecamatan kecil yang berada diujung selatan Kabupaten Tuban, Mempunyai sebuah daratan yang unik dimana segala daratan yang ada di mulai dari pegunungan, kehutanan, dataran tinggi, hingga dataran rendah.

Plumpang adalah sebuah Desa yang dijadikan pusat pemerintahan Kecamatan dengan membawahi 18 ( delapan belas ) desa yang ada, dimana semua warganya mayoritas bermata pencaharian menjadi petani. Kecamatan Plumpang merupakan centralnya beras atau padi untuk memenuhi kebutuhan pangan di Kabupaten Tuban. Dalam setahun mampu mencapai sampai tiga kali panen.

Batas-batas Kecamatan Plumpang, sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Rengel yang tepatnya di Desa Trutub, sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Semanding yang tepatnya di Pakah Desa Sumberagung, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Widang yang tepatnya di Desa Penidon, dan sebalah Selatan berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan yang ditandai dengan sungai terpanjang Bengawan Solo.

“PLUMPANG” berawal dari kata “Alu” (alat untuk menumbuk padi) dan “Lumpang”  (tempat menumbuk padi), dari kata itulah orang-orang sering menyebut “ALUMPANG”, dan pada akhirnya lama kelamaan orang-orang menjadi terbiasa dengan sebutan PLUMPANG. Sudut pandang sisi filosofi, “Alu” (alat untuk menumbuk padi) dan “Lumpang” (tempat menumbuk padi) adalah dua alat yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, dimana alat tersebut adalah suatu lambang atau gambaran dari sebuah kesuburan dan kesejahteraan bahan pangan bagi kehidupan manusia, “Alu” melambangkan Kesejahteraan dan “Lumpang” melambangkan Kesuburan, maka dari itu Plumpang menjadi sebuah Kecamatan yang “GEMAH RIPAH LOHJINAWE” dan menjadi centralnya beras atau padi di Kebupaten Tuban Provinsi Jawa Timur. 

Asal Muasal “Alu dan Lumpang”

Alkisah tokoh pewayangan Semar, Gareng, dan Petruk saat itu merasakan kalau bumi serong/miring karena posisi gunung kidul yang tidak seimbang (yang satu kecil dan yang satu besar). Semar berrencana memindahkan gunung yang kecil ke suatu tempat, untuk menyeimbangkan posisi gunung kidul. Mereka berunding menyusun rencana pemindahan gunung tersebut, malam itu juga mereka akan memindahkan gunung kecil itu.

Kemudian mereka bertiga mengambil kayu kelor dan daun sembu’an, tidak lama kemudian mereka sampai di gunung kidul dan memikul gunung yang kecil  itu dengan kayu kelor yang dibalur pohon sembuan. Dalam perjalanan malam itu, ada dua batu terjatuh di suatu tempat,  mereka terburu-buru karena mendengar orang yang memukul-mukul bakul (tempat nasi) pertanda hari akan pagi dan karena takut ketahuan orang, maka mereka meninggalkan batu tersebut, hingga sampailah mereka disuatu tempat untuk meletakkan gunung itu,

Tugas Semar, Gareng, dan Petruk untuk menyeimbangkan gunung kidul telah selesai dan mereka memberinya nama gunung “Ngimbang” yang sampai sekarang terletak di Desa Ngimbang Kecamatan Palang Kabupaten Tuban.

Sedang dua batu yang tertinggal di suatu tempat tadi yang mirip dengan “Alu” (alat untuk menunbuk padi) dan “Lumpang”  (tempat menunbuk padi) maka Semar, Gareng dan Petruk menamakan tempat itu Alumpang nama “alu dan lumpang” hingga menjadi sebuah desa yaitu Desa Plumpang dan menjadi Kecamatan Plumpang yang terletak di Kabupaten Tuban. Sampai sekarang batu yang berbentuk alu dan lumpang itu masih ada.